Cara Deteksi Dini Kanker Serviks untuk Para Perempuan

Tahukah kamu? Kanker serviks merupakan penyakit kanker tertinggi yang dialami wanita setelah kanker payudara. Menurut data Kementerian Kesehatan, tingginya angka kematian akibat kanker, termasuk kanker serviks, disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker serviks.

Cakupan deteksi dini melalui screening kanker serviks baru mencapai 8,29 persen. Kanker serviks tak mengenal usia tuk bersemayam. Terlebih, bagi wanita yang aktif berhubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan dan tidak menggunakan pengaman menjadi faktor penambah risiko penyakit kanker serviks

Mengenal Deteksi Dini Kanker Serviks

Penyebaran sel-sel kanker yang cepat dan seringkali tak terdeteksi pada masa awal pertumbuhannya menjadikan kanker serviks menjadi salah satu penyakit mematikan bagi kaum wanita. Maka dari itu, pencegahan kanker serviks sangat penting dilakukan, baik melalui vaksin kanker serviks maupun deteksi dini kanker serviks secara rutin.

Pepatah mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Hal tersebut benar adanya, namun fakta lain yang tak kalah penting adalah, lebih baik terdeteksi dini agar segera diobati daripada terlambat.

Dengan deteksi dini kanker serviks, peluang keberhasilan  pengobatan kanker serviks akan lebih tinggi karena sel-sel kanker belum begitu menyebar. Deteksi dini kanker serviks juga dapat menjadi acuan pemeriksaan lanjutan guna mengetahui stadium kanker serviks.

Cara Deteksi Dini Kanker Serviks

  1. Pap smear

Cara pertama yang paling umum dilakukan adalah dengan pap smear. Pap smear bertujuan untuk melihat keberadaan sel abnormal yang dapat berkembang menjadi kanker. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel sel di leher rahim yang akan diteliti melalui mikroskop.

Hasilnya, sampel tersebut dapat dikategorikan menjadi sel normal, merupakan sel prakanker, atau bahkan merupakan sel kanker. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, dokter akan menyarankan dan melakukan perawatan untuk kanker serviks jika memang terbukti ada, ataupun melakukan tindakan untuk mencegah sel prakanker tumbuh semakin parah. 

Kamu bisa melakukan pap smear secara rutin. Deteksi dini kanker serviks dengan pap smear sangat direkomendasikan bagi wanita yang telah aktif berhubungan seksual, atau setidaknya berusia di atas 21 tahun, dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Wanita usia 21–49 tahun : setiap 3 tahun sekali
  • Wanita usia 50–65 tahun : setiap 5 tahun sekali
  • Wanita usia di atas 65 tahun: hanya jika ada keluhan tertentu pada leher rahim (serviks) dan area sekitarnya, atau belum pernah melakukan Pap smear sejak usia 50 tahun
  1. Pemeriksaan HPV

Jika hasil tes pap smear menunjukkan adanya sel abnormal, dokter akan merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan human papilloma virus (HPV). Selain itu, bagi wanita berusia 30 tahun ke atas juga disarankan melakukan pemeriksaan HPV setiap 5 tahun sekali.

Sesuai dengan namanya, pemeriksaan HPV dilakukan untuk mengetahui kemungkinan ada atau tidaknya virus HPV, sang penyebab utama kanker serviks, di dalam leher rahim

  1. Pemeriksaan IVA

Cara selanjutnya yang dapat digunakan untuk deteksi dini kanker serviks adalah dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Berdasarkan laporan hasil konsultasi WHO, pemeriksaan IVA dapat mendeteksi lesi tingkat pra kanker dengan sensitifitas sekitar 66-69 % dan spesifitas sekitar 64-98 %.

Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan IVA dapat diolah secara langsung tanpa menunggu hasil laboratium. Inilah yang membuat harga pemeriksaan IVA menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan pap smear. Selain murah, pemeriksaan IVA juga dapat dilakukan kapanpun lho!

Caranya, tenaga kesehatan akan mengusapkan asam asetat atau asam cuka dengan kadar 3-5 persen pada leher rahim. Tenang saja, pemeriksaan IVA ini hanya dilakukan beberapa menit dan tidak menimbulkan rasa sakit kok!

Hasilnya, jka terdapat sel kanker, leher rahim akan terlihat seperti luka ketika diberikan asam asetat. Dapat pula berubah warna menjadi putih, atau bahkan mengeluarkan darah. Berbeda dengan jaringan leher rahim normal yang tak menunjukkan perubahan ketika diberi asam asetat.

Ketiga metode di atas merupakan cara deteksi dini kanker serviks yang mudah. Setelah melakukan deteksi dini kanker serviks dan terdapat hasil abnormal, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, seperti kolposkopi dan biopsi.Selain rutin melakukan deteksi dini kanker serviks, jangan lupa untuk selalu menerapkan pola hidup dan makan yang sehat, serta melengkapi vaksin kanker serviks sesuai dosis dan jadwalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.